Ustadz Menulis

Ihfazillah Yahfazka (Jagalah Allah, Niscaya Allah Menjagamu)

Oleh: Farhat Asy Syuja’i, S.H.

Tarbiah Tak Mengenal Usia

Sebagian besar orang, begitu mendengar kata tarbiah, langsung membayangkan anak-anak kecil yang sedang belajar. Bayangan itu terlalu sempit. Ia mirip kata Nabi ﷺ kepada seorang Arab badui yang mempersempit rahmat Allah: “Engkau telah mempersempit sesuatu yang luas.”

Tarbiah, pada hakikatnya, adalah upaya memindahkan seseorang dari satu tingkat kesempurnaan ke tingkat yang lebih tinggi. Jika maknanya hanya berlaku bagi anak kecil, bagaimana nasib para sahabat senior yang menyambut Islam pada usia empat puluhan? Mereka tentu tidak berhenti dibina hanya karena rambut mereka telah memutih. Orang yang usianya telah lanjut pun bisa tertinggal jauh dalam kesempurnaan, dan ia tidak boleh dilupakan.

Meski demikian, pembinaan paling indah bila dimulai sejak dini. Hadits yang akan kita kaji berikut ini adalah buktinya: sebuah nasihat agung yang justru ditujukan kepada seorang anak.

Hadits Ibnu Abbas: Nasihat untuk Seorang Anak

Imam Ahmad, at-Tirmidzi, dan para perawi lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata:

Suatu hari aku berada di belakang Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda: “Wahai anak, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan mampu memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.”

Dalam tambahan riwayat Imam Ahmad, tertera pula pesan ini: “Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu sempit.”

Perhatikan siapa yang diajak bicara. Nabi ﷺ memanggilnya, “Wahai ghulam,” sebutan orang Arab untuk anak yang masih belia. Bayangkan seandainya kita mengucapkan kalimat sedalam itu kepada anak berusia enam, tujuh, atau delapan tahun. Orang yang mendengar mungkin menggeleng, mengira kita kurang waras: anak sekecil itu mana paham? Ibnu Abbas pun kala itu masih seorang bocah. Namun Rasulullah ﷺ tidak menahan diri untuk berbicara kepadanya.

Dalam riwayat Ahmad, beliau bahkan membuka dengan pertanyaan yang lembut: “Maukah kamu kuajari beberapa kalimat yang dengannya Allah memberimu manfaat?” “Mau,” jawab Ibnu Abbas. Lalu mengalirlah kalimat-kalimat itu, yang kelak menjadi salah satu fondasi pendidikan umat.

Menjaga Allah, Dijaga Allah

Allah-lah al-Hafizh, Sang Penjaga. Ketika Nabi Ya’qub a.s. berbicara tentang putranya, Al-Qur’an mengabadikan ucapannya: “Allah adalah sebaik-baik penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” Lalu bagaimana mungkin manusia yang lemah “menjaga” Allah?

Maksudnya, menjaga apa yang berasal dari-Nya: perintah-Nya, larangan-Nya, hak-Nya, dan segala amanah yang dititipkan kepada kita. Perintah dijaga dengan menunaikannya, larangan dijaga dengan menjauhinya. Itulah sifat hamba yang dipuji Allah, “setiap hamba yang bertobat lagi menjaga (hafizh)”, yang menurut salah satu tafsir berarti penjaga batas-batas, hak, perintah, dan larangan Allah.

Al-Qur’an dan Sunnah menyebut beberapa hal secara khusus untuk dijaga:

  • Shalat: “Jagalah shalat-shalat kalian, terutama shalat wusthā.”
  • Sumpah: “Jagalah sumpah-sumpah kalian.”
  • Kemaluan: “Katakanlah kepada orang-orang beriman agar menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka.”
  • Wudhu: sabda Nabi ﷺ bahwa tidak ada yang menjaga wudhu kecuali orang beriman.
  • Lisan dan kemaluan: dalam riwayat al-Hakim, “Siapa yang menjaga apa yang ada di antara dua rahangnya dan dua kakinya, aku jamin surga baginya.”

Umar bin Khattab r.a. pernah menulis kepada para gubernurnya (riwayat Malik): urusan paling penting baginya adalah salat. Siapa yang menjaganya, ia menjaga agamanya; siapa yang menyia-nyiakannya, ia akan lebih menyia-nyiakan yang lain. Pada akhirnya, menjaga Allah berarti menjaga seluruh anggota badan: perut beserta apa yang masuk ke dalamnya, kepala beserta apa yang dipikirkannya.

Adapun balasannya, “niscaya Allah menjagamu”, mengikuti hukum yang akrab dalam Al-Qur’an: balasan sejenis dengan amal. “Ingatlah kepada-Ku, Aku akan mengingat kalian,” dan “Jika kalian menolong (agama) Allah, Dia akan menolong kalian.” Hamba yang dijaga Allah tidak akan disentuh keburukan yang tidak Dia izinkan. Penjagaan itu ada dua rupa.

Pertama, penjagaan urusan dunia. Allah menjaga badan, harta, keluarga, dan anak-anaknya, bahkan menjaga keturunannya setelah ia tiada. Ingatlah kisah dua anak yatim yang hartanya dijaga Nabi Khidir. Al-Qur’an menyebut sebabnya dengan satu kalimat: “Sedangkan ayah keduanya adalah orang yang saleh.” Sang ayah dahulu menjaga Allah, maka Allah menjaganya semasa hidup dan menjaga anak-anaknya sepeninggalnya.

Kedua, penjagaan agama dan iman, dan inilah yang lebih mulia. Betapa kita membutuhkannya. Allah menjaga hamba-Nya dari syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan, dari gejolak syahwat, dan pada detik kematian dari tipu daya setan, dengan meneguhkannya dalam ucapan yang teguh, hingga ia bertemu Allah sebagai orang yang beruntung.

Allah di Hadapanmu: Pelajaran dari Gua Tsur

“Jagalah Allah, engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.” Dalam riwayat lain, “di depanmu.” Maknanya, ke mana pun hamba itu melangkah, Allah menyertainya. “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat baik.” Qatadah menggambarkannya dengan indah: siapa yang bersamanya ada Allah, maka bersamanya ada pasukan yang tak terkalahkan, penjaga yang tak pernah tidur, dan penunjuk jalan yang tak pernah tersesat.

Ini adalah kebersamaan khusus (ma’iyyah khashshah), yaitu kebersamaan berupa dukungan, penjagaan, taufik, pemeliharaan, dan kelembutan. Allah menyampaikannya kepada Musa dan Harun, “Sesungguhnya Aku bersama kalian berdua; Aku mendengar dan melihat.” Musa pun berkata dengan yakin, “Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan menunjukiku.” Dan inilah yang Rasulullah ﷺ bisikkan kepada Abu Bakar di dalam gua: “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”

“Wahai Rasulullah,” kata Abu Bakar, “seandainya salah seorang dari mereka menunduk melihat kakinya, ia pasti melihat kita.” Para pengejar menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi tak terlintas di benak mereka untuk menunduk. Jawaban Nabi ﷺ menenangkan jiwa: “Wahai Abu Bakar, bagaimana pendapatmu tentang dua orang yang Allah adalah yang ketiganya? Jangan takut.” Mungkinkah Allah menyerahkan keduanya? Tidak. Sebabnya sederhana: keduanya menjaga Allah, maka mereka mendapati-Nya di hadapan mereka.

Kebersamaan semacam ini tidak khusus bagi Musa, Harun, atau Nabi ﷺ. Beliau sendiri mengabarkan bahwa ia terbuka bagi siapa pun yang menjaga Allah.

Pesan kepada seorang anak

Sekali lagi, kata-kata ini ditujukan kepada seorang anak. Itulah sebabnya hadis ini disebut memuat pokok-pokok tarbiah. “Menjaga perintah Allah” mencakup segala perintah: salat, zakat, hingga kejujuran dalam jual beli. Pedagang tidak boleh curang, menipu, atau bersumpah palsu; pembeli pun tidak boleh menipu.

Apakah kita harus merinci setiap bentuk tarbiah kepada anak itu satu per satu? Tidak perlu. Cukup katakan kepada anak berusia tujuh tahun, “Nak, jagalah Allah, salatlah.” Betapa banyak anak yang disuruh salat oleh ayahnya demi menaati perintah Nabi ﷺ, tetapi ia berwudu sekenanya, atau tak sungguh-sungguh salat di kamarnya saat tak ada yang mengawasi. Anak itu perlu diajari bahwa ia menjaga Allah, baik saat ayahnya melihat maupun saat ayahnya tak ada.

Sebab kelak datang masa ketika ia membutuhkan penjagaan “sebaik-baik penjaga”. Pada saat itu, orang yang biasa menjaganya tak lagi mampu menolong, bukan ayah, bukan kakak. Tak ada kecuali Allah. Hadis ini luar biasa, dan yang lebih mengagumkan, Nabi ﷺ menyampaikannya kepada seorang anak. Seandainya diserukan kepada para tokoh besar pun, dikhawatirkan mereka belum sepenuhnya memahaminya.

Mungkin akal Ibnu Abbas kecil belum sanggup menampungnya dengan sempurna. Namun lakukanlah seperti yang dilakukan Rasulullah ﷺ: katakan kepada anak-anakmu, “Wahai anak-anakku, aku ajarkan kepada kalian beberapa kalimat.” Sampaikan kata-kata yang penuh berkah dan rahasia itu, lalu saksikan hasilnya. Tugasmu hanya menyampaikannya, dan biarkan ia menghafal: jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu; jagalah Allah, engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.

Mengenal Allah di Kala Lapang

“Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia mengenalmu di waktu sempit.” Anak kecil mungkin belum merasakan sempit dan lapang, sebab segala kebutuhannya dicukupi orang tua. Tetapi kesempitan pasti akan menjemputnya kelak. Begitulah watak dunia.

Abu Ali al-Yusi menceritakan bahwa gurunya dahulu menghafal dua bait syair tentang dunia sejak kecil di sekolah. Tujuannya, agar ketika keadaan berbalik, hati tidak terguncang, sebab sejak kanak-kanak ia sudah tahu bagaimana dunia berputar. Isi syair itu adalah delapan hal yang menimpa semua manusia: kegembiraan dan kesedihan, pertemuan dan perpisahan, kesulitan dan kemudahan, sakit dan sehat. Tak seorang pun luput dari kedelapannya, hingga ia menyelesaikan urusannya di dunia dan kembali kepada Tuhannya.

Karena itu Nabi ﷺ berpesan agar kita mengenal Allah ketika hidup sedang lapang. Siapa yang mengenal-Nya di masa lapang, Allah akan memperhatikan dan menolongnya di masa sempit. Para ulama salaf pun meninggalkan teladan:

  • Adh-Dhahhak bin Qais berkata, “Ingatlah Allah di masa lapangmu, niscaya Dia mengingatmu di masa sempitmu.”
  • Nabi Yunus a.s. adalah hamba yang saleh. Ketika ditelan ikan paus, Allah berfirman: “Kalau sekiranya ia tidak termasuk orang-orang yang banyak bertasbih, niscaya ia akan tetap berada dalam perut ikan itu sampai hari kebangkitan.” Ia rajin bertasbih di masa lapang, maka Allah mengenalnya di masa sempit.
  • Fir’aun adalah hamba yang melampaui batas dan lalai. Ketika laut menenggelamkannya, ia berseru bahwa ia beriman kepada Tuhan yang diimani Bani Israil. Jawaban yang ia terima menggetarkan: “Apakah sekarang (baru beriman), padahal sebelumnya engkau durhaka dan termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan?” Imannya tertolak karena ia tak mengenal Allah di masa lapang.
  • Salman al-Farisi r.a. (riwayat Ibnu Abi Ashim dalam az-Zuhd) berkata: bila seorang hamba berdoa di waktu lapang lalu berdoa lagi di waktu sulit, para malaikat berkata, “Suara yang sudah dikenal,” dan mereka memberinya syafaat. Bila ia tak pernah berdoa di waktu lapang, lalu berdoa di waktu sulit, malaikat berkata, “Suara yang asing,” dan mereka tak memberinya syafaat.

Ketika Seluruh Umat Tak Berdaya: Takdir, Doa, dan Istianah

Nabi ﷺ tidak berkata, “Seandainya keluargamu berkumpul,” atau “seandainya sukumu berkumpul.” Beliau berkata, seluruh umat. Seandainya manusia sedunia bersatu untuk memberimu manfaat yang tidak Allah takdirkan, mereka tidak akan mampu. Demikian pula bila mereka bersepakat mencelakakanmu dengan sesuatu yang tidak Allah izinkan sampai kepadamu. Ilmu Allah telah mendahului, dan takdir telah berjalan.

Mengapa pesan ini disampaikan kepada Ibnu Abbas? Agar ia mantap menyadari kefakirannya kepada Allah, sebagaimana firman-Nya, “Wahai manusia, kalianlah yang fakir (butuh) kepada Allah, dan Allah Mahakaya.” Bila kita yakin bahwa orang-orang yang ingin menolong kita pun tak mampu menolong diri mereka sendiri tanpa izin Allah, maka kita tak akan berlindung kecuali kepada-Nya, tak akan merendahkan diri kecuali di hadapan-Nya, dan tak akan mengadukan hajat kecuali kepada-Nya.

Meminta hanya kepada Allah

“Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah.” Doa adalah ibadah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadis an-Nu’man bin Basyir. Dan tentang meminta, sebuah syair yang masyhur berkata:

Jangan sekali-kali meminta hajat kepada anak Adam, mintalah kepada Dia yang pintu-Nya tak pernah terkunci. Allah murka bila engkau berhenti meminta kepada-Nya, sedangkan manusia murka bila diminta.

Bukankah ini keajaiban? Kita datang meminta kepada orang yang tak suka dimintai dan tak senang melihat kedatangan kita, sementara Dzat yang membuka pintu-Nya, menyingkirkan penghalang, tak menentukan waktu tertentu untuk meminta, dan senang bila hamba-Nya terus memohon, justru kita tinggalkan. Orang yang berakal tentu tak akan beralih dari-Nya kepada yang lain.

Dalam Shahihain, dari Abu Hurairah r.a., Nabi ﷺ bersabda: “Rabb kita turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, Aku ampuni.”

Penceramah mengisahkan, suatu kali ia membawakan hadis ini dalam khotbah Jumat untuk memotivasi jamaah menghidupkan malam. Seusai salat, seorang jamaah dari negeri muslim lain, yang baru pertama kali mendengarnya, menunggu dan menyapanya dengan haru: “Allah berkata pada saat itu, ‘Adakah yang meminta?’ Ini sungguh berharga. Allah sendiri yang meminta kita meminta!”

Dua bait syair lain menguatkan pesan ini. Seorang perempuan berkata, “Para dermawan telah wafat; kepada siapa kami meminta bila zaman menghimpit?” Dijawab, bahwa siapa yang tujuannya meminta kepada makhluk tak akan selamat. Bila orang yang diharapkan wafat, Dzat yang engkau tuju tetap kekal, maka berlindunglah di pintu-Nya. Dan penyair al-Makudi menggambarkan dirinya berdiri di pintu Allah dengan merendah: hanya kepada-Mu aku menuju, dan tak ada yang melihatku berdiri di pintu selain-Mu.

Memohon pertolongan hanya kepada Allah

“Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” Ini penjabaran firman-Nya, “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” Orang yang ditolong Allah adalah orang yang benar-benar tertolong, dan orang yang dibiarkan-Nya adalah orang yang terhina. Para penuntut ilmu menghafalkan bait ini:

Bila pertolongan Allah menyertai seseorang, segala yang ia inginkan akan dimudahkan. Namun bila tak ada pertolongan Allah, maka yang pertama mencelakakannya adalah ikhtiarnya sendiri.

Nasihat itu ditutup dengan kalimat yang meneduhkan: “Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” Apa yang ditakdirkan telah ditetapkan, dan ilmu Allah yang azali telah mendahuluinya.

Kembali kepada Tarbiah

Semua kalimat agung itu, sekali lagi, ditujukan kepada seorang anak sebagai dasar-dasar tarbiah. Imam Malik telah menyimpulkannya dalam satu kalimat: “Akhir umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang telah memperbaiki generasi awalnya.” Dan salah satu yang memperbaiki generasi awal itu adalah bisikan Nabi ﷺ kepada seorang bocah di belakangnya: jagalah Allah, niscaya Dia menjagamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *