Agent of Change

Islam merupakan agama yang mengatur segala aspek kehidupan, menunjukkan jalan terang lagi menenangkan, dan agama yang menyatukan diantara perbedaan. Juga menyamaratakan martabat ketika sebagian ditindas karena ada sistem strata berupa harta, tahta, rupa, atau bangsa. Agama Islam juga menjadi solusi di tengah masalah yang menimpa sebuah negeri.

Namun sungguh aneh di zaman milenial ini. Agama yang mengajarkan adab dan norma yang tinggi dalam bersosialisasi dinafikan. Seolah agama hanya mengajarkan ibadah tanpa mengajarkan etika dalam bersosial. Akibatnya para remaja dan pemuda lah yang menjadi korban.

Ada pula yang memakan harta haram berupa uang korupsi, lalu jelas ia adalah tersangka korupsi. Tapi bukan bui yang menemaninya. Namun fasilitas hotel yang ia dapati. Sungguh miris atas semua yang terjadi. Seolah zaman kembali seperti masa jahiliyah yang penuh dengan kebiasaan nista.

Maka sebuah keharusan ketika terjadi keburukan ada yang mengubahnya. Layaknya Nabi Muhammad Shalallah Alaihi wa Sallam ketika itu yang berupaya sekuat tenaga mengemban misi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mendakwahkan Islam, serta atas izin Allah mampu menghilangkan kebiasaan jahiliyah pada masa itu.

Sebab, jika tidak ada yang berusaha untuk mengubahnya, maka sungguh hal itu tidak berubah, akan senantiasa dan selalu seperti itu. Allah Subahnahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Qs Ar-Ra’d: 11)

Keadaan yang Menyedihkan

Pada tahun 2015, Dinas Kesehatan DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) mencatat ada 1.078 remaja usia sekolah di Yogyakarta yang melakukan persalinan. Dari jumlah itu, 976 diantaranya hamil di luar pernikahan.

Angka kehamilan di luar nikah merata di lima kabupaten atau kota yang ada di Yogyakarta.Di Bantul ada 276 kasus, Kota Yogyakarta ada 228 kasus, Sleman ada 219 kasus, Gunungkidul ada 148 kasus, dan Kulon Progo ada 105 kasus.

Adapun di daerah Lampung, seperti yang disebutkan Direktur PKBI Lampung, Dwi Hafsah Handayani, bahwa 12 siswi SMP di satu sekolah di Lampung diketahui hamil, terdiri dari siswa kelas VII, VIII, dan IX. Bahkan 20% pelanggan PSK adalah pelajar SMA.

Berbeda di tahun 2018, salah satu kota di Jawa Barat, yaitu Majalengka, SeorangKepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) kabupaten Majalengka, H. Yayat Hidayat saat membuka kegiatan Bimbingan Perkawinan di KUA (Kantor Urusan Agama) menyampaikan bahwa ada 1.017 kasus penyimpangan seksual, lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT), 300 waria dan 500 pekerja seks komersial (PSK), 125 di antaranya sudah terjangkit penyakit HumanImmunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/ADIS).

Dari kementrian kesehatan juga menjelaskan bahwa dari 514 kabupaten/kota di 34 provinsi, kasus HIV/AIDS ini ditemukan di 443 lokasi atau sekitar 84,2%. Tercatat Sumatra Barat menjadi angka LGBT terbanyak seindonesia dengan 18.000 orang.

Itu merupakan beberapa data bahwa para remaja di Indonesia mengalami krisi moral. Adanya peraturan dan pendidikan yang sudah dirancang sedemikian rupa dengan para cendikiawan yang ahli dalam bidangnya, tetap tidak sanggup menjadikan manusia menjadi baik dan bermoral ketika pengetahuan agama dan kedekatan kepada Sang Maha Kuasa diabaikan.

Tidak hanya masalah moral, pehaman agama pun dibiaskan, makna sesungguhnya diselewengkan, sehingga seolah pemahaman yang benar adalah salah. Contohnya saja kalimat Tauhid, sebuah kalimat mulia yang menjadi syarat seseorang masuk kedalam Islam, kalimat yang selalu diangkat dan diperjuangkan oleh setiap muslim dunia, itu pun menjadi bahan bulan-bulanan direndahkan. Dengan alasan bahwa itu adalah bendera salah satu Ormas Islam yang dinilai radikal dan menyebarkan ideologi radikalisme.

Lalu penamaan khilafah. Seruan bahwa “NKRI harga mati!” seolah menjadi sesuatu yang nomor satu.Tidak mengindahkan hadits nabi bahwa diakhir zaman nanti akan ada khilafah yang tegak di atas manhaj nabi (Khilafah ala nahji nubuwah). Lalu apakah nanti di akhir zaman ketika sudah diserukan khilafah dan para ulama maupun tokoh cendikiawan Islam sudah sepakat bahwa khilafah sudah tegak, namun kita harus tetap “NKRI harga mati”? seolah umat Islam dicekoki untuk cinta mati terhadap negara yang tidak bisa dibawa mati.

Tidak hanya moral para remaja dan para pemuda hancur, namun ideologi mereka terhadap pemahaman Islam pun rusak. Seolah para remaja dan pemuda saat ini sengaja dirusak sehingga kelak yang menjadi pemimpin bangsa adalah orang-orang bermoral kadal dan pemahaman agama yang dangkal.

Maka dengan keadaan yang menyulitkan dibutuhkan pemuda-pemuda yang rela berkorban harta, jiwa dan nyawa. Sebuah pengorbanan yang hanya untuk memperjuangkan agama Allah dan menggapai ridha-Nya. Pemuda yang mengabaikan masalah dunia, mengajak manusia untuk taat kepada Allah Azza wa Jalla, dan ia senantiasa memperbaiki diri untuk dekat dengan Rab-nya.

Tantangan Perubahan

Menjadi agen perubahan di akhir zaman bukanlah hal yang mudah dan tidak bisa dianggap remeh. Perlu ada kesungguhan, mental yang kuat, serta keinginan untuk mendapatkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, sehingga seseorang dapat menjadi agen yang tidak sekedar agen biasa, namun dapat merubah sesuatu yang hina. mengobati hati yang terluka, dan melengkapi kekurangan yang ada.

Nabi Muhammad Shalallah Alaihi wa Sallam merupakan contoh nyata dan yang patut menjadi tauladan umatnya. Ia merupakan seorang Utusan Allah Azza wa Jalla yang memiliki tujuan untuk merubah adat jahiliyah menjadi akhlak Islamiyah.

Menyembah berhala yang beragam macamnya, yang terhitung sebanyak 360 berhala merupakan adat dan kebiasaan yang tak terlepaskan ketika itu. Berhala yang berada dan mengelilingi sekitaran Ka’bah merupakan fenomena biasa pasa masa itu dan luar biasa di masa ini. Andai saja saat itu sudah adaGuiness World Record(rekor dunia), mungkin kota Mekkah mampu mendapatkan itu dengan gelar “Kota yang memiliki berhala terbanyak di dunia”

Berkurban kepada berhala pun tak kurang pada saat itu. Layaknya memberikan binatang peliharaan. Berhala yang mereka anggap mulia, senantiasa mereka beri makanan yang dianggap kurban dan diberikan wewangian.

Pada saat itu pula Nabi Muhammad dituntut untuk menghilangkan kepercayaan mereka dalam mempercayai peramal, orang pintar (orang Indonesia menyebutnya dukun), ahli nujum, khayalan, khurafat, atau pun thiyarah.

Tak hanya masalah ideologi atau keyakinan, moral pada saat itu sangat menyedihkan. Seorang suami memerintahkan istrinya untuk berzina dengan lelaki lain, sebuah bendera di depan rumah seorang wanita yang memberikan tanda bahwa ia adalah pelacur, ada pula wanita yang digilir untuk digauli beberapa pria. Itu semua merupakan beberapa kenistaan yang terjadi di masa itu.

Saat itu Rasulullah Shalallah Alaihi wa Sallam seolah menjadi sebuah botol yang berisi air di tengah padang sahara yang sangat dibutuhkan manusia, namun saat itu seolah manuisa lebih memilih air di danau yang mana itu hanyalah fatamorgana.semata.

Rasulullah benar-benar berupaya untuk merubah keadaan yang tak bermoral, hina dan nista menjadi peradaban maju, bernilai dan berharga. Seolah merubah kotoran yang tak bernilai menjadi mutiara yang nilainya tak bisa dibayar oleh harta benda.

Hingga suatu ketika Rasulullah dituntut untuk pergi dari kota kelahirannya demi menyelamatkan agama yang ia cinta dan agama yang diridhai Allah Azza wa Jalla. Kepergiannya tak hanya meninggalkan kenangan masa lalu, namun meninggalkan kegagalan upayanya untuk memperbaiki kota kelahirannya tersebut.

Atas izin Allah Azza wa Jalla setelah kepergian Rasulullah Shalallah Alaihi wa Sallam dari Makkah menuju Madinah, perlahan Rasulullah dapat mengubah kebiasaan hina menjadi mulia, watak yang keras layaknya batu dapat diubah menjadi lembut layaknya sutra.

Hingga suatu ketika kota kelahirannya dapat ditaklukan oleh pasukan Rasulullah dan merubah sistem ketuhanan yang menyembah berhala menjadi sistem tahuid yang menyembah Allah Azza wa Jalla semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

Be agent of change not victim of change

            Perubahan tak cukup hanya di angan-angan. Perlu ada pikiran yang dituangkan dalam realita dan di aplikasikan dalam kehidupan nyata. Berubah tak hanya memperbaiki manusia atau orang lain menjadi baik. Namun merubah diri dengan senantiasa berintrospeksi layaknya Nabi yang selalu melakukan evaluasi untuk berubah menuju perubahan.

Tak cukup menjadi baik di hadapan manusia lalu lupa dan lalai dalam mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Mengetahui. Namun agent perubahan juga harus senantiasa mewarnai diri dalam ibadah kepada Allah Azza wa Jalla. Jika ia lalai untuk memperbaiki dirinya, seolah menjadi lilin yang menyinari sekitarnya, namun dengan perlahan ia menyikiti dirinya, lalu mati.

Mencari ridha ilahi merupakan pondasi awal dalam membentengi diri dari segala macam jenis penyakit hati yang akan menggerogoti kemauan, keinginan, dan azam dalam berproses menjadi agen perubahan.

Godaan, rintangan, dan ujian yang dihadapi adalah hal yang harus dihadapi oleh seorang agen perubahan. Layaknya nabi yang sudah siap untuk diberikan duri-duri di setiap jalan yang ia lewati, lemparan kotoran yang menghujani tubuhnya, bahkan lemparan batu yang melukai tubuhnya adalah rintangan untuk menjadi agen perubahan dan merubah keadaan.

Ibadah dengan senantiasa memperbaiki diri merupakan perisai diri dari godaan duniawi di akhir zaman ini. Kemauan yang kuat, sembari merancang apa yang akan dilakukan untuk esok hari menjadi kunci untuk menjadi jati diri. Jati diri yang ditunggu umat, jati diri layaknya Nabi Muhammad, jati diri yang dekat dengan Allah Sang Maha Pemberi Rahmat dan jati diri untuk menjadi agent of change not victim of change(agen perubahan bukan korban perubahan).

Baarokallohufikum

Ustadz Ubaidillah Hasyim

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *